A. Menjadi Penguasa Belum Tentu Memimpin
Dari pengalaman berpartai sejak
gemuruh reformasi 1998, Anis Matta berpendapat, memimpin bangsa jauh lebih
berat dari sekadar memenangi pemilihan umum. Ketika kemenangan tidak disertai
kapasitas memimpin, distribusi kekuasaan politik harus dilakukan sehingga ide
besar untuk kesejahteraan rakyat tak dapat diwujudkan.
Anis Matta, yang turut membidani
kelahiran Partai Keadilan, kini bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan
Sejahtera (PKS), memandang gerakan dakwah perlu menjadi perjuangan yang
melembaga dalam struktur politik karena inti dari gerakan itu adalah penyadaran
untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Ia meyakini bahwa partai
politik yang mengandalkan figur untuk memimpin akan habis di tengah jalan.
Sosok figur cepat atau lambat akan berakhir, sementara ide terus berkembang.
Partai politik hanya akan bertahan dengan ide dan organisasi yang tangguh.
Meski begitu, sejak era Orde
Lama, negeri ini sudah menghabiskan banyak energi untuk konflik ideologi yang
disebut Anis tidak relevan bagi pertumbuhan bangsa semajemuk Indonesia. Konflik
aliran yang dilabeli sebagai kelompok Islam dan nasionalis, misalnya.
Berikut petikan wawancara Kompas
dengan Anis Matta, beberapa waktu lalu:
B. PKS
dipandang membawa politik beridentitas Islam. Seberapa aliran politik ini
mengakomodasi pluralisme?
Kita ini
bangsa yang majemuk, lahir dari beragam identitas lokal, dibentuk oleh satu identitas
besar sebagai bangsa. Penting
bagi setiap kelompok politik untuk mempunyai basis ideologi. Itu adalah
referensi pembelajaran untuk merumuskan masa depan. Kita bisa punya banyak
referensi dan Islam adalah salah satunya. Tidak ada satu bangsa yang diwarnai
hanya oleh satu ideologi, pasti selalu beragam, apalagi bangsa sebesar kita. Adalah
kesalahan besar untuk mengeliminasi identitas kelompok. Namun, kesalahan juga
bagi kelompok jika tidak bisa mengintegrasikan ideologinya dalam kehidupan
berbangsa. Dibutuhkan proses integrasi karena selama ini kita kerap hidup dalam
dikotomi. Saya tidak perlu memisahkan identitas saya sebagai Muslim dan orang
Indonesia karena itu bukan dua hal yang bertentangan.
Sekarang ini kita justru perlu
lebih banyak lagi sumber pembelajaran untuk mengisi kevakuman pemikiran dari
mana pun datangnya, termasuk dari Barat dan Islam. Pluralisme adalah fakta yang
membentuk watak keindonesiaan kita. Tidak ada satu agama yang datang ke
Indonesia bisa menghilangkan pluralisme tadi. Kita ini
bangsa yang luar biasa elastis dan begitu terbuka. Ketika membawa Islam dalam
perpolitikan, kami juga datang dengan kesadaran pluralisme seperti itu. Tetapi,
pluralisme bukan berarti kita tidak mempunyai identitas.
C.Bagaimana Anda memandang
penerapan syariat Islam dalam hukum formal di Indonesia?
Ketika merumuskan suatu regulasi,
misalnya di DPR, kita perlu memakai banyak referensi. Kita
mempelajari hukum dari Barat, dari Timur, syariat Islam juga salah satunya.
Banyak orang
keliru memandang soal ini. Syariat Islam itu amat luas dan bagian hukum pidana
dalam syariat Islam sebenarnya hanya sedikit. Hukum pidana dalam Islam itu
membutuhkan terms and conditions (persyaratan) untuk diterapkan. Misalnya,
hukum potong tangan hanya bisa diterapkan bila pada umumnya masyarakat sudah
sejahtera.
Contoh lain, hukum rajam untuk
perzinaan. Rajam adalah sanksi, tetapi untuk sampai pada sanksi, proses
pembuktiannya terlalu rumit. Misalnya, diperlukan empat orang yang menyaksikan
seseorang berzina dan menyaksikan dengan amat jelas. Seseorang bisa disaksikan
oleh empat orang berzina sejelas itu mungkin ketika memproduksi film porno,
live show, atau membuat pesta seks. Artinya tidak sekadar berzina, tetapi
mempertontonkan perzinaan.
Saya melihat salah pandang
seperti itu tidak terjadi pada syariat Islam, tetapi juga banyak sumber hukum
yang lain. Proses pembuatan hukum di Indonesia sering tidak matang karena
referensinya tidak betul-betul dipahami dengan baik.
1. Sebagai Wakil Ketua DPR, apa yang
akan Anda lakukan menyikapi itu?
Dalam periode saya sekarang, misi
saya pribadi di pimpinan DPR adalah memperkuat infrastruktur legislasi.
Pekerjaan politisi seharusnya berbasis intelektual karena yang kita buat adalah
aturan bagi semua orang. DPR itu, menurut saya, adalah akal kolektif bangsa
Indonesia.
DPR harus mempunyai basis riset
akademis yang kuat dalam pembuatan regulasi. Saya sudah mengusulkan di pimpinan
DPR agar kita segera membangun perpustakaan besar sejenis dengan perpustakaan
kongres di AS, yang merupakan perpustakaan terbesar di AS. Basis riset perlu
menjadi tulang punggung pembuatan regulasi. Metode dengar pendapat dan studi
banding yang dipakai selama ini hanya jadi sentuhan akhir saja.
2. Tetapi, makin mudah sekarang
menjadi anggota DPR?
Sistem politik memungkinkan untuk
itu. Media sosialisasi pun jauh lebih luas, tetapi fenomena ini tidak akan
bertahan lama. Tidak semua yang masuk ke politik akan bertahan sebagai
politisi, Menurut saya, yang akan bertahan di dunia politik ini adalah mereka
yang punya niat baik dan kompetensi untuk memberi. Mereka yang mencari hidup di
dunia politik tidak akan bertahan.
3. Bagaimana Anda melihat
perpolitikan di Indonesia sekarang?
Perkembangan politik kita
sekarang sangat menjanjikan. Kita adalah bangsa besar yang diberi kesempatan
berkompetisi secara sehat oleh sistem politik kita, mulai dari struktur
tertinggi hingga tingkat desa, terjadi suatu seleksi kepemimpinan secara
sistemik. Cepat atau lambat, sistem ini akan memilih putra-putra terbaik dari
bangsa kita ini untuk memimpin. Yang paling diuntungkan oleh sistem ini adalah
mereka yang berumur 10-15 tahun pada awal reformasi. Mereka hidup dalam era
kompetisi dan menyiapkan diri lebih baik untuk memimpin. Sekarang masih banyak
karut-marut, tetapi sistem ini akan memproduksi output yang jauh lebih baik di
kemudian hari, bukan sekarang.
D. Bagaimana Anda melihat
kepemimpinan nasional pada 2014 dan setelahnya?
Saya melihat PKS punya dua
masalah, soal kapasitas untuk memimpin di tataran strategis dan kapasitas untuk
menang di tataran taktis. Menurut saya, memenangi pemilu itu pekerjaan yang
tidak terlalu sulit, memimpin lebih sulit. Kita belajar
dari kepemimpinan di era Reformasi selama 10 tahun terakhir ini. Bagaimana
parpol muncul mendadak, menjadi besar, lalu turun terus. Bagaimana seorang
pemimpin atau figur naik, kemudian turun dan lenyap seketika.
Misalkan
Anda seorang presiden, kalau Anda tidak datang dengan sebuah tim yang besar,
pekerjaan pertama yang harus Anda lakukan adalah distribusi politik,
membagi-bagikan kekuasaan itu pada orang lain, Tim yang Anda bentuk pada saat
memimpin itu adalah tim yang dicomot dari sana-sini. Tak akan ada satu ide besar yang
bisa direalisasikan dengan cara itu.
Karena itu, saya berpikir bahwa
ini bukan sekadar persoalan figur, kita perlu bicara tentang ide-ide besar dan
kapasitas besar untuk memimpin. Tidak semua yang menang itu akhirnya berkuasa
dan tidak semua yang berkuasa pada akhirnya memimpin. Saya malah khawatir
negeri kita ini sebenarnya dipimpin oleh the ghost leaders (para pemimpin
bayangan).
Dulu
penguasa adalah sekaligus pemimpin. Soekarno berkuasa dan benar-benar memimpin,
tidak ada ghost leaders di zamannya, Soeharto berkuasa dan benar-benar
memimpin. Sekarang ini yang ada adalah the ghost leaders. Mereka itulah
pemimpin sebenarnya, cuma kita tidak tahu siapa.
Saya kira
bukan keharusan PKS mengajukan calon pemimpin sendiri pada 2014. Lebih penting
mempertahankan posisi yang kokoh dalam arus besar politik sambil memberi bukti
bahwa kami punya kapasitas dengan kinerja yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar